Jumat, 14 Oktober 2011

Dendam Nyi Iteung ….



            06:19
            Terngiang jelas obrolan kami semalam. Berat rasanya ketika aku berulang kali membaca perkataannya. “Kok bisa ya? Padahal nggak direspons. Kok masih keukeuh maksa ya? Please deh….” batinku. Bergegas kulirik Si Andro, dan menuliskan pesan singkat yang kutujukan pada salah satu nomor.

            Mau nomornya si X ga? Kasihan banget sih nggak direspons. J

Menunggu dan menunggu kalau-kalau pesanku akan dibalas olehnya. Tak sadar bahwa jarum jam sudah tepat berada di angka 00:00. Sayang, hanya ada miscall sebanyak 21 kali dari sahabat lelakiku. Dan pesan singkat dari teman lamaku yang sekadar menanyakan kabar dan di mana kini aku bekerja. Sepertinya aku belum mau untuk merespons pesan singkat itu.
Aku terpaku lugu di depan mini Toshiba di keheningan malam itu sembari memperhatikan beberapa status yang ditulis oleh para teman di facebook. Kubolak-balik novel “Pride and Prejudice” yang dengan setia terhampar di bed-ku. Tak bosan-bosannya aku membaca buku itu, dan memandangi kavernya dengan setia. Seolah akulah tokoh utama dalam buku itu. J
Jarum jam terus berputar, hingga aku juga belum terlelap. Adzan subuh pun berkumandang, tapi tetap mata ini belum juga menutup. Rasanya tak sabar ingin menjemput matahari pagi di belakang rumah. Namun,  seketika aku teringat akan dirinya. Teringat akan peristiwa yang terjadi beberapa tahun lalu saat ia terlalu baik untukku. Semua ia ajarkan kepadaku. Tapi kini semuanya sirna, ya….seperti lirik sebuah lagu dangdut.
Kau yang mulai, kau yang mengakhiri. Kau yang berjanji, kau yang mengingkari.
Sungguh tak rela melepasnya, tapi apa boleh buat. Selamanya aku tak bisa seperti ini. Usia yang bertambah semakin membuatku berpikir akan kehidupanku sendiri. Aku memang jarang untuk memikirkan tentang diriku sendiri. Ya, aku lebih banyak sibuk mengurusi keluargaku, Ayah, Ibu juga si Bungsu.
Mungkin jika peristiwa seperti sekarang ini tak terjadi pada diriku, aku tak akan pernah tahu siapa dia sesungguhnya. Cerita tentangnya memang baru sebagian ada di buku pertamaku yang diterbitkan oleh sebuah penerbit di Demak. Mungkin itu akan menjadi saksi serta kenangan antara dia denganku tanpa ada yang tahu tentang kami berdua. Mungkin jika kutuangkan ke dalam sebuah novel, pasti akan bestseller. Ya, wanita mana yang ingin selalu terus dibohongi dan dinilai penampilannya setiap kali bertemu. Masya Allah, “Sesungguhnya perbanyaklah bersyukur akan nikmat-Ku.”
Kucoba mengakhiri semuanya. Hingga aku tak mau lagi bersentuhan dengannya. Aku lelah dengan semua permainannya. Aku lelah dengan semua perkataan manisnya. Dan juga aku lelah untuk terus menaruhnya di barisan paling depan dan paling dalam di hatiku.
Namun, tepat pukul 06:19 seketika aku teringat dirinya. Meluncurlah sebuah pesan singkat untuknya.
“Gue udah gk ganggu lo lg, pls jgn ganggu temen fb gw. Liat aja klo sampe tmn lakinya tmn gw sms keg w. Bakal gw ksh no lo biar lo diacak-acak.”
“Lo jealous ya?”
“Ga, Cuma heran aja. Kok bisa ya kirim inbox, padahal nggak direspons?” Temen-temen fb gw gk akan mudah buat diprovokasi apalagi ttg gw.”
“SEMUA TEMEN-TEMEN LO UDAH JADI TEMEN-TEMEN GW, KRN GUE PUNYA AKUN BEDA. Bukan gw nanya kalo kayak gitu aja gak bisa.”
Ya Tuhan, ...
Aku terdiam lemah, tak berdaya seketika. Nafasku seperti diujung tanduk. Rasanya aku ingin melemparnya dengan tumpukan semen yang ada di belakang rumah, hingga ia mati terkapar. Sayang, itu tak mungkin. Aku bukan Tuhan, aku juga tak punya kantong ajaib. Aku hanya wanita biasa. Aku lemah seperti wanita lainnya.

07:48
Nada sms yang dipakai di soundtrack film “3 Idiots” pun berbunyi nyaring. Kubuka dan kubaca.
“Aduh udah deh aku gak mo dipusingin soal bocah ALAY itu. Klopun dia toh ternyata slama ini udh temenan sm aku tnpa aku sadari. Emg apa sih yg kamu takutin?”
“Ya Tuhan, kamu bukan aku dan kamu gak ngalamin apa yg aku alamin,” batinku
Ingin rasanya menjerit, berteriak sekencang-kencangnya. Tapi, semakin aku tak menahan emosi ini, maka setan yang ada dalam diriku akan semakin berpesta ria melihat kekalahanku sebagai seorang wanita. Tak akan kubiarkan setan mengendalikan emosiku.
“Kamu bukan aku sih, jadi kamu gak ngerti apa yang aku rasain. A udah, lupain aja.”
Berakhirlah obrolan singkat via sms dengan salah seorang sahabat. Rasa mual dan mulas mengaduk-aduk perutku yang memang kata dokter aku tak boleh makan pedas, terlalu lelah atau banyak pikiran. Tapi, sikon seperti inilah, sikon antara Dia denganku yang selalu tak berujung membuat berat badanku semakin menyusut saja dari hari ke hari.
“As if someday we meet together at a special place. Preparing myself with gun to shoot him. And the case will close forever.”






Indomie Satu Atap


10:09
Hoammm….
Terbangun aku di pagi itu. Tanpa sadar ada sebuah pesan singkat yang kulihat di layar si Bold. Terkejut bukan main aku kala itu. Bergegas kubaca pesan itu, dan aha… ternyata dari si dia, soulmate-ku. Kami pun ber-sms ria.

0817911****
Di mana ‘beruang madu’?

08131563****
Di hatimu. Hehehe…

Si bold pun berbunyi kembali dengan nada khas yang dipakai di soundtrack film “3 Idiots”. Kubuka dan kubaca.

0817911****
Hmm, today ke mana? Ke rmh nenek gue, mau?

08131563****
Ga kmn2, ya udah. Aq tgg di mana?

0817911****
Gw jmpt di Jelambar ya?

08131563****
Ya udah, smpe situ plg jm 11.00

0817911****
Ya, honey, wait for me.
Now,
gw mo nyuci dlu.
Cu, bye.

08131563****
:D, CUL


4 hours later
Tepat pukul 11.00, aku pun sampai di Jelambar. Sesuai janji kami, dia pun sudah menungguku dengan setia di shelter Jelambar itu. Ya, tangannya bergegas menggandengku dengan mesra. Seolah-olah tak membiarkan kaum Adam yang lain mengizinkan mereka untuk melirikku walau hanya sedetik saja.
            Tepat di hadapan kami muncul metromini berwarna oranye, jurusan Teluk Gong. Kami pun menaiki metromini itu. Kurang lebih 1 jam, kami telah sampai. Cukup berjalan kurang lebih 15 menit, sampailah di rumah neneknya.
            Setibanya aku di sana, hanya sepi yang kurasa. Tempat tinggal yang jauh dari keramaian. Cocok untuk tempat beristirahat. Aku pun tak sungkan-sungkan untuk masuk ke dalam rumah alm. neneknya.
            Kurebahkan diriku di karpet permadani dan memandangi rumah itu. Hanya ada perasaan senang dan bahagia karena bisa berada satu atap di siang itu bersamanya. Lantunan suara adzan yang bergema, membuat lamuanku buyar seketika. Lantas, ia menyuruhku untuk mengambil air wudhu dan shalat berjamaah di rumah itu.
           
12:35
Dia beriqomah seketika, dan aku bersiap-siap untuk shalat berjamaah bersamanya. Tak disangka, begitu banyak keberkahan di hari itu. Membayangkan apabila aku benar-benar tercipta untuknya. Subhanallah. Meskipun aku tak mengenalnya dengan baik, baru hitungan bulan saja. Seolah-olah, aku yakin bahwa ia tercipta untukku.
Kuamati dirinya yang begitu khusyuk beribadah. Membuatku menitikkan air mata. Ya Tuhan, mengapa Engkau pertemukan aku dengannya. Mengapa Engkau tak izinkan aku untuk bisa terus mendampinginya. Sanggupkah aku untuk bisa berpisah dengannya?
Ya, bulir-bulir air mata itu berhenti seketika saat dirinya mengucapkan “Assalamu’alaikum” pertanda bahwa ternyata shalat kami sudah selesai dilaksanakan. Alhamdulillah.
Bergegas kuusap air mataku dan mencium tangannya. Lantas, seusai shalat ia bertanya kepadaku. Pertanyaan yang biasa sebenarnya, tapi buatku itu pertanyaan yang membuatku meleleh seketika.
“Tadi makan jam berapa?”
“Jam 7, pas sarapan.”
“Oh, kita masak Indomie aja ya buat makan siangnya?”
Kuanggukkan kepalaku, pertanda aku menyetujuinya.
“Tapi nggak usah pakai telur ya? Kamu kan nggak makan telur.”
“Iya.”
“Gimana kalau pakai cabe rawit aja, diiris-iris. Terus dimasukkan ke dalam Indomie-nya.”
“Iya.”
“Daritadi ‘iya-iya’ terus.”
Aku hanya melemparkan senyuman kepadanya. Entah apa lagi yang bisa kuucapkan selain kata “Iya”.
“Oia, Indomie rasa ayam bawang aja ya? Cuma itu yang tersisa. Hehe… Terus, berhubung ayamnya nggak ada, kita ganti pakai gorengan aja. Aku tadi beli gorengan tahu sama tempe.”
“He..ehem… Tapi aku boleh ikut masak?”
“Kamu duduk aja, biar aku yang masak.”
Masya Allah, dia menjamu aku dengan begitu istimewanya bak Putri Cinderella. Kuturuti keinginannya. Aku duduk di sofa itu dan sekilas memandang ke arahnya yang sibuk ingin memasakan Indomie untukku.

15 menit kemudian
“Panas banget ya?” kataku.
“Nyalain aja kipas anginnya!” balasnya sambil mengaduk-aduk Indomie-nya.
“Iya.”
“Udah lapar ya? Bentar lagi matang kok Indomie-nya. Tinggal dimasukkin bumbu sama cabe rawitnya, biar HOT. Kan makin enak rasanya.” Dia menengok ke arahku.
“He ehem, awas kompor gasnya meleduk. Jangan besar-besar apinya,” ketusku.
“Nggak akan.”




14:00
Meskipun rasa lapar mendera aku, tak kuhiraukan sama sekali. Cukup kubalas tatapannya dengan senyumanku untuk tidak membuatnya khawatir kalau aku memang kelaparan. Hehehe.
Dan tak lama kemudian, Indomie yang dimasaknya pun siap disajikan ke hadapanku. Lengkap dengan gorengan tahu dan tempenya. Dia juga menyajikan Indomie itu dengan nasi putih yang baru saja dimasaknya di ‘langseng’−semacam tempat untuk memasak nasi di tungku.
Hmmmm, harum sekali wangi aroma Indomie rasa ayam bawangnya. Meskipun ayamnya tidak ada, nikmatnya Indomie tak tergantikan.
“Hmmm, lama ya? Yuk, makan… Ntar kalau dingin nggak enak, mumpung hujan, jadi cepet dihabiskan Indomie-nya,” katanya mengedipkan sebelah matanya.
“Iya. Makasih ya udah masakin buat aku. Makin cinta sama kamu,” ucapku.

24 Mei 2011
Tanggal 28 Mei 2011 terlalu lama untukku. Uang tabunganku sudah habis terkuras karena berbagai keperluan. Sedangkan gajian masih lama. Alhasil, tadi malam aku berinisiatif untuk pergi ke warung Bude. Ya, membeli Indomie rasa ayam bawang lengkap dengan kerupuk kulitnya.
“Bude, beli Indomie. Biasa ya, satu.”
“Masak di sini apa sendiri?”
“Sendiri aja. Sekalian sama kerupuk kulitnya dua.”
“Iya.”

Berhasil kudapatkan Indomie rasa ayam bawangnya serta kerupuk kulitnya. Aku pikir makan Indomie pakai kerupuk kulit akan lebih mantap bila dibandingkan dengan gorengan. Tapi ternyata, bukan kerupuk kulit atau gorengan yang membuat Indomie itu enak dimakan. Tapi, karena Indomie itu yang memasak aku, bukan dia−soulmate-ku yang memasaknya dengan hati, sehingga meskipun terlihat sederhana tapi terasa nikmat dan berkahnya. Itulah ceritaku.

OTAK-OTAK JELAMBAR


Jelambar
Aku bertanya kepada angin
Apa yang ia rasakan
Saat merasakan rindu
Dan hati mulai sedikit pilu
Lalu angin menjawab:
Rinduku seluas buih di lautan
Buih-buih itu tak akan kubiarkan terhempas
Akan kuberi ia napas kehidupan
            Balutan sweater ungu telah menyelamatkannya dari terik matahari yang menyengat siang itu. Banyak orang yang datang dan pergi di hadapannya. Tak hanya itu, bus patas ac dan ekonomi pun mulai memadati area terminal Kalideres. Dilihatnya pula, segerombolan pengamen dengan baju lusuhnya memasuki bus patas ac jurusan Kalideres-Pulogadung. Sesekali diliriknya jam tangan yang melekat di tangan kirinya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Pertanda, kalau dia harus segera meninggalkan terminal menuju Ciputra Mall.
            Wanita dewasa yang berperawakan tinggi besar berbalut sweater ungu serta syal kuningnya, melangkahkan kaki perlahan sambil mengamati nomor jurusan bus yang hendak ditujunya. Matanya tertuju pada salah satu bus patas ac 81, jurusan Kalideres-Depok. Dia menghampiri bus itu dan mulai mencari tempat duduk yang nyaman. Kursi urutan kedua pun menjadi sasarannya. Sesekali diliriknya tukang jualan minuman dingin dan tukang tahu Sumedang. Kasihan panas-panas, dagangan belum laku juga, pikirnya.
            Pandangannya tertuju pada sudut pojok terminal Kalideres. Dilihatnya sepasang adam dan hawa yang saling berpegangan tangan. Jauh di lubuk hatinya, dia membayangkan kalau hari ini bisa merasakan apa yang dirasakan oleh sepasang adam dan hawa itu. Klakson bus pun nyaring terdengar.
            TIN… TIN… TIN…
            Alunan merdu suara pengamen yang baru saja masuk membuat dia hanyut dengan masa lalunya, saat sosok laki-laki yang hari ini akan ditemuinya pernah membuat luka dalam hidupnya berkali-kali. Lagu “Rapuh” dinyanyikan oleh mereka dengan suara khas dan gaya mereka sendiri, meskipun suara mereka tidak seperti suara penyanyi aslinya.
Kau tak tahu betapa rapuhnya aku
Bagai lapisan tipis air yang beku
Sentuhan lembut kan hancurkan aku
Walaupun cinta tak sempurna
Menghampiri ku seketika
Ku ingin kau tahu betapa rapuhnya aku
Kau tak tahu betapa rapuhnya aku
Masih merasa luka di masa lalu
Ku pernah mencintai sepenuh hati
Dan ku terluka, luka membekas
Bekas membuat, buat selamanya
Selamanya ku, ku kan selalu
Ku kan selalu rapuh
Kau ingin tunjukkan kepada dunia
Tak hanya ada karena masa lalu
Tapi masih ada harapan bagi yang baru
            Air matanya meluncur seketika dari balik kerudung ungunya. Dia pun segera mengelapnya pelan. Tapi, air mata itu terus mengalir mengingatkan peristiwa tragis yang pernah menimpanya bertubi-tubi. Kini, dia akan kembali menemui laki-laki di masa lalunya itu. Entah kenapa bisa terjadi. Dia pun tak sanggup mengungkapkannya.
            Bus yang sedang dinaikinya melaju kencang saat sudah berada di flyover Pesing. Dan alunan merdu sang pengamen pun berakhir. Dia merogoh saku tasnya dan mengambil uang koin lalu diberikannya kepada si pengamen. Tak lupa diambilnya kaca kecil dari balik dompetnya. Matanya terlihat sembap, seperti habis disengat oleh lebah. Ya tuhan, apa yang akan dikata Madhav, sebutan laki-laki yang telah menyakitinya, rutuknya dalam hati. Apa aku masih mengharapkannya? Ya Tuhan, beri petunjukmu, jika memang hari ini dialah yang terbaik, tunjukkan aku sisi baiknya, lanjutnya sembari merapikan kerudungnya.
***
15.30 WIB….
            Dia memberhentikan bus saat akan mencapai lampu merah, yang terletak di perempatan Grogol.
Kiri… kiri… Pak!
            Bus yang sedikit bergoyang pun akhirnya perlahan berhenti, dan kakinya yang mungil serta lincah itu mulai menyalib penumpang lain untuk bisa memberikannya jalan keluar. Dan, keluarlah dia dari balik bus patas ac 81 itu. Dia mulai ke tepi jalan, dan sedikit menghela napas. Masih terasa penat setelah kurang lebih satu jam setengah dia berada dalam bus yang padat sesak itu.
            Dia kemudian melihat jam tangannya, sudah menunjukkan waktu ashar ternyata. Bergegas, dia menaiki tangga penyebrangan. Dia pun mempercepat langkahnya. Napasnya yang terengah-engah tak dihiraukannya. Syal kuning yang melekat di lehernya pun ikut tersibak angin. Dia terlihat feminine dengan pakaiannya yang berwarna cerah itu. Apalagi, kakinya yang terbalut dengan sepatu wedges peach-nya. Memang terkesan kontras dengan warna pakaiannya, tapi masih saja tetap terlihat cantik.
            Tak butuh waktu lama untuk sampai di dalam Ciputra Mall. Dia segera menuju Hypermart, dan mencari sosok Madhav dari kejauhan. Tapi, belum juga dilihatnya. Hingga satu langkah… dua langkah… tiga langkah… dia sampai, tapi dia tak melihat sosok Madhav. Kemudian, dia membalikkan badan dan dilihatnya laki-laki mengenakan T-Shirt hijau nge-jreng sedang berdiri dekat pintu lift. Senyum merekah di wajahnya pun merekah saat Madhav menatapnya lekat. Mereka berdua pun duduk di depan Hypermart. Dan Mazra, wanita bersyal kuning itu membelakanginya. Dia tertunduk malu. Dia tak ingin Madhav memperhatikannya detail.
            Perasaan Mazra saat itu bergejolak. Dia ingin sekali jatuh ke dalam pelukannya dan menyampaikan isi hatinya yang sudah lama terpendam bertahun-tahun, tapi itu mustahil baginya. Madhav mungkin sudah tak berperasaan lagi kepadanya. Dia kini lebih memilih untuk mundur perlahan. Dia tak ingin tersakiti lagi.
            “Nunggunya udah lama ya?” ujarnya sambil memilin-milin ujung syalnya. “Nggak, baru kok.” Dia tersenyum dan terus menatap mata Mazra tanpa berkedip sedikitpun. “Tadinya kalau lewat dari pukul 4.00, lu mau gue tinggal.”
“Oh, untungnya belum ditinggal ya!” Diliriknya Madhav malu-malu. “Tadi kessar, malah ke lantai dua, eh taunya di lantai dasar.”
“Oh.” Diayunkannya kedua kaki dan tangannya diletakkan di samping badannya. “ Cantik lu sekarang!”
“Biasa aja ah… lu juga tambah cool,” sembari membuka tas dan kemudian melanjutkan ucapannya, “ kulkas tapinya… hehehe.”
Sudah lama mereka duduk saling membelakangi dan Madhav pun mengajaknya pergi dari Hypermart menuju 21 (Baca: Twenty One)
“Mau makan apa mau nonton dulu?”
“Hmmm, terserah, kan lu yang punya duitnya.” Dia tersenyum.
“Hehehe, lu nya udah laper pa belum?”
“Belum!” balasnya singkat.
“Ya udah, beli tiket nonton dulu, kalau nanti keburu makan, ya kita makan.”
Mazra menganggukan kepalanya. “Iya… iya.”
            Sekitar tiga lantai dilewati mereka dengan escalator. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Keduanya saling memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan sesekali mereka tertawa tanpa arah, alias nggak jelas.
Sesampainya di 21, dia meninggalkan Madhav ke toilet. Membiarkannya bebas memilih tempat duduk yang diinginkannya. Kini, sudah ada dua tiket nonton di tangannya. Dan, dia menatap ke segala penjuru 21 mencari di mana Mazra berada. Tak lama, sosok Mazra muncul di belakangnya tak terduga. Lalu, Madhav segera menggenggam jari jemari Mazra yang menurutnya lembut sekali. Mengingat kalau film yang dipilihnya sudah akan dimulai.
            Keduanya menuju studio 1, studio di mana film mereka akan dimainkan. Merasa gerah dengan genggaman Madhav, dia pun segera melepaskannya. Kakinya yang lincah menuju tempat duduk nomor 7 dan 8 H. Lalu, keduanya pun duduk dan terdiam satu sama lain.
“Hmmm, adem ya! Kagak kayak di luar, panas banget…. Berasa di gurun sahara.” Kedua tangannya dilipatkan ke atas kepala. “Yakin lu belum laper?”
“Hihihi, iya adem… kalau laper nanti bilang, kan Kokoh baru dapet angpao banyak.” Kembali dia tersenyum.
            Madhav cekikikan sembari menatapnya lagi, “Hehehe, iya… gimana kalau…, ucapannya terputus saat keduanya dihampiri oleh penjual snack 21.
“Mas, minumnya? Sekalian popcorn-nya buat temen nonton.”
Madhav pun dengan spontan langsung memesan segelas softdrink dan sebungkus popcorn.
“Boleh deh, Mbak. Pesen softdrink sama popcorn cokelatnya satu ya!”
Pelayan 21 itu pun segera menyodorkan pesanan keduanya. “Ini, Mas… Rp 18. 000,-.”
            Dia mengeluarkan uang yang diminta pelayan dan menyuruh Mazra untuk minum dan memakan popcornnya. Sayang, itu tak dilakukannya. Sampai film diputar pun, Mazra tetap tak mempedulikan Madhav. Dia berpura-pura untuk focus menonton film itu, meskipun dia rindu akan kehangatan Madhav.
***
Dua jam berlalu sudah…
“Filmnya keren ya?”
“Hmmm, biasa aja. Cuma suka aja kalimat terakhir dari film itu. Ketika mencintai seseorang, kesalahan tak akan mampu mengubah perasaan, karena meskipun benci, hati akan selalu tetap peduli.”
Sesekali dirapikannya rambut-rambut halus yang tersembul dari balik kerudungnya. “Dalem banget ya.”
“Sedalam perasaan gue sama lo hingga hari ini.”
Mata Mazra terbelalak. Seolah dia tak percaya kalau Madhav kali ini benar-benar menantang keseriusannya untuk merajut kasih kembali. Saat itulah, Madhav berusaha untuk meyakinkannya, kalau dia selama ini memang tak tergantikan.
Mazra yang diam-diam ternyata tersipu malu, saat Madhav menatapnya lekat. Kini, mereka hanya berjarak lima sentimeter saja. Dan saat itu, tepat di depan mereka ada seorang penjual otak-otak ikan tenggiri. Madhav pun memesan otak-otak tersebut. Tak kurang dari lima belas menit, otak-otak sudah ada digenggaman Madhav.
            Kini, di pertengahan jembatan Jelambar, dengan desiran angin yang berembus. Madhav menusuk otak-otak itu dan menyuapinya perlahan. Mulutnya terbuka perlahan sembari menatap Madhav penuh harapan, kalau apa yang dilakukannya hari itu bukti keseriusannya untuk merajut kembali kasih dengannya.
***





           

REKENING CINTA


"Hari ini atau tidak selamanya?
Pertanyaan itu selalu terbesit dalam pikiranku. Di mana saja, bahkan saat aku terjaga dalam tidurku pun aku kerap memikirkannya. Sejak empat tahun terakhir selepas aku kehilangan dia, aku berjanji untuk tidak aware terhadapnya. Namun, itu tak berhasil, aku masih tetap saja ingin selalu tahu apa yang sedang dia lakukan. Dia, Radith yang telah mengajarkanku arti tentang hidup, kini ia benar-benar telah meninggalkanku tanpa jejak.
Sudah tiga belas hari berlalu, begitu cepat. Dan begitu tersayat sangat hati ini. Dia yang dulu sangat memujaku, sudah berpindah haluan dengan wanita pilihannya yang lain. Padahal, Kamis, 21 Juli 2011 lalu, sebuah sms mengejutkan tertera di layar Samsung Wave-ku. Sms yang dikirimkan Radith untukku. Hingga kini, meskipun dia sudah meninggalkanku, jujur saja aku masih mengaguminya. Meskipun sebagian besar temanku sudah melarangku untuk terus larut dalam kesedihan.
Terdengar lagu Zoobi Dhoobi yang merupakan lagu Bollywood dalam soundtrack film “3 Idiots” dari Samsung Wave-ku.
 081791133**
pinjem 2 ratus ada ga, bsk siang gw ambil J
Napasku berhenti tiba-tiba, merasakan bahwa sekelilingku adalah pemakaman. Yap, aku sedih, sedih dengan tingkah lakunya yang masih saja sama dari tahun ke tahun. Masih saja meminta uang kepadaku untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal, aku yakin kalau dia jauh lebih makmur daripada aku. Perlahan, kuusap dadaku, sambil terus membaca sms darinya berkali-kali. Dan tiba-tiba saja kepalaku terasa berat. Bukan karena aku sakit kepala, tapi aku lelah dengan keadaan buruknya. Kutarik napasku dalam-dalam, dan perlahan kuhembuskan. Saat itu, aku baru bisa sedikit tenang, meskipun seharusnya aku tak meghiraukannya. Dengan malas, kubalas sms darinya.
0813156350**
gw masih di luar Jakarta, plg kalo  mau hari Kamis depan.
Emg buat apa?
            Sebenarnya, aku tak berniat sama sekali untuk mempedulikannya. Tapi, itulah aku. Masih tetap saja tak ingin melihat dirinya kesusahan. Dari awal aku bertemu dengannya, aku memang tipe wanita yang katanya “tidak tegaan” kalau melihat orang di sekelilingku kesusahan. Sejak aku kecil, aku memang diajarkan oleh ibuku untuk saling berbagi kepada sesama teman. Dan apa yang Ibu ajarkan selalu kuaplikasikan dalam kehidupanku. Jadi, tanpa mempedulikan orang itu teman, pacar, atau bahkan orang asing, jika aku mampu untuk berbagi apa yang aku miliki, pastilah akan kubagi. Hingga, sosok Radith yang asing bagiku saja aku rela berbagi hasil jerih payahku dengannya.
            Selang beberapa menit, berbunyilah Samsung Wave-ku. Sebuah pesan kini menghiasi layar Samsung-ku.
081791133**
Buat nambah bayar kostn :”(
Membaca sms itu mengingatkanku saat dulu empat tahun aku kos di bilangan Rawamangun, depan kampus UNJ. Setiap bulan aku harus pandai mengatur keuanganku, antara kosan dengan biaya hidup sehari-hari. Memang sudah takdirnya, anak kos harus membagi-bagi uangnya untuk keperluan hidupnya sehari-hari. Jika terlambat bayar kosan, maka aku harus mengganti keterlambatan itu dengan menambah biaya kosan perharinya, Rp. 10,000,-. Kejam bukan? Padahal, untuk bisa mendapatkan uang, aku harus bekerja paruh waktu. Membagi waktu belajarku di kampus dengan waktu kerjaku mengajar. Karena itu, aku sangat tidak tega saat Radith menuliskan bahwa uang yang dipinjamnya dariku itu untuk bayar kosan. Meskipun, aku sedikit meragukannya. Segera, kubalas sms darinya.
0813156350**
            di sini itu nggak ada ATM, kalau mau ya lo tgg mpe Kamis, mau?
            Keraguan tiba-tiba saja memenuhi relung jiwaku untuk tidak memberikan pinjaman uang kepadanya. Tapi, lagi-lagi aku gagal. Aku bergegas mengambil Samsung Wave-ku dan kubuka aplikasi “Calculator”, lalu aku mulai menghitung pundi-pundi uang yang akan kudapatkan di bulan Juli 2011. Ya, Rp 2. 300. 000,- yang akan kudapatkan di bulan Juli. Akhirnya, kuputuskan untuk menyisihkan Rp 300. 000,- itu untuk Radith. Dan sisanya kuberikan kepada ibuku. Beliaulah yang hingga kini masih mengatur keuanganku, meskipun aku sudah bekerja.
            Sms dari Radith pun akhirnya menyusul satu per satu. Dan saat itu, aku masih meragukan apakah aku benar-benar akan mentransfer uang itu atau tidak.
081791133**
Ya udh bsk Kamis
Hatiku sedikit tersentak saat kubaca sms itu, lalu kurasakan jemari ini benar-benar bekerja dengan sendirinya.
0813156350**
            Knp lo nggak minjem sama yg laen klo bth cepet?
081791133**
Kalo ada lu, knp gw msti mnta ma yg lain…hmm ya udahlah, maaf ya sebelumnya.
Aku semakin terkejut dengan balasan sms darinya. Kenapa harus aku? Kenapa harus memelas kembali kepadaku? Tuturku dalam hati saat itu. Lalu, hatiku pun luluh setelah membaca sms darinya itu. Segera kubalas lagi sms darinya.
0813156350**       
            Nomor rek.nya brp?
            Saat aku menanyakan nomor rekening kepadanya. Tak perlu aku menunggu lama mendapatkan jawaban darinya. Aku pun penasaran, kira-kira rekening siapa yang akan dia pakai. Dan ternyata, rekening keponakannya.
081791133**
3721323*** atas nama paulus yansen langkamau..ponakan gw
Saat itu sebenarnya aku ingin sekali menghapus sms darinya. Tapi, kupikir-pikir lagi, aku hidup di dunia hanya sekali. Dan Tuhan telah memberiku begitu banyak limpahan rahmat-Nya yang aku sama sekali tak pernah menduganya. Mungkin sudah saatnya aku membuktikan ucapannya bahwa dia salah telah menilaiku yang katanya aku ini wanita pelit yang tidak ingin menolong sesama. Bahkan, ucapannya tentang “Berbuat baiklah terhadap orang yang kau sayang sebelum orang itu tiada”, aku buktikan hari itu dengan mentransfer Rp 300. 000, sepulang aku dari Sampit.
            Beberapa temanku di kantor sempat aku mintai pertolongan. Aku butuh bantuan teman yang memiliki rekening BCA. Karena setelah kutanya lebih jauh lagi, nomor rekening yang Radith berikan kepadaku menggunakan rekening Bank BCA. Alhasil, supaya memudahkan transaksi kutanya satu per satu teman kantor. Kumulai dari teman seperjuanganku, Icha.
“Cha, boleh minta tolong nggak?”
“Bayar lu, dari kemaren minta tolong mulu. Hehehe.”
“Jiahhahaha… iya gampang kalau upeti mah, tinggal dirapel aja.”
“Mau minta tolong apa?” ia tampak berpikir sejenak
“Cha, nanti gue ikut pake atm BNI lo ya? Gue mau transfer ke rekening orang.”
“Rekeningnya apa emang?” sambil merapikan naskah yang berceceran di meja kerjanya.
“BCA. Kenapa? Mahal ya?” Ditatapnya Icha saat itu.
“Hmm, biasanya sih kalau beda bank gitu transaksinya, suka kena cas gitu. Gimana?” jelasnya.
“Ya udah nggak apa-apa. Nanti gue tambahin deh.”
“Makasih ya, Cha,” ia tersenyum.
            Kembali ada senyum merekah di wajahku. Aku senang karena sepulang kerja nanti, aku bisa langsung mentransfer uang itu. Kembali, kulanjutkan pekerjaanku menyunting naskah Mbak Asma Nadia yang berjudul “Cinta di Ujung Sajadah”. Sambil menyunting, aku pun menyalakan e-pop (jaringan komunikasi kantor) kepada salah satu temanku, Mbak Vika.

Aku: Mbak Vika, kamu pake rekening bank apa?
Mbak Vika: Bank BCA, knp say?
Aku: Wah…. Kebeneran, aku boleh pinjam nggak Mbak.
Mbak Vika: Buat apa?
Aku: Aku mau transfer uang ke rekening orang. Nah orang ini pakai rekening Bank BCA.
Mbak Vika: Boleh-boleh, ke sini aja.
Aku: Wait for me ya, mbak. Loph u deh!
            Aku pun menghampiri Mbak Vika yang saat itu  dia baru saja selesai melakukan transaksi dengan orang lain. Aku pun bergegas memberikan nomor rekening yang Radith berikan kepadaku. Dan dengan senang hati, Mbak Vika membantuku untuk mentransfer uang itu. Tak perlu menunggu beberapa jam, dalm hitungan menit pun transaksi sudah selesai. Mbak Vika pun segera mengeprint hasil transaksi yang baru saja sebagai bukti untukku.

BUKTI TRANSAKSI TRANSFER DANA
Tanggal             : 25/07/2011
Jam                              : 16:46:44
Nomor referensi             : 4EF4AE7A-8650-E159-E056-10F*********
Tujuan Transfer              : 3721323***
Nama Penerima : PAULUS YANSEN LANG KAMAU
Jumlah                          : Rp. 300, 000
Berita                            : -
Jenis Transfer                : TRANSFER SEKARANG
Nomor Urut                    : 1938**
Status                           : TRANSAKSI BERHASIL

Kuucapkan alhamdulillah setelah mendengar Mbak Vika mengucapkan kata “Berhasil”. Lalu, aku memberikan uang cash Rp 300. 000,- kepada Mbak Vika. Dan kusimpan bukti transfer itu baik-baik dalam laci kerjaku. Dan kuperhatikan bukti transfer itu baik-baik, tapi aku masih tak percaya kalau aku baru saja mentransfer uang itu. Uang hasil jerih payahku. Uang yang aku cari hingga aku pulang larut. Tapi, dalam sekejap aku sanggup memberikan uang itu pada Radith. Sosok laki-laki yang membuat aku merasa menjadi wanita terjelek dan paling nggak up to date.

Malam harinya…
            Sesampainya di kosan, aku pun mengirimkannya sms. Sebenarnya, hal itu tak perlu aku lakukan, Hanya saja, aku ingin melihat responsnya seperti apa setelah aku mentransfer sejumlah uang untuknya. Apakah dia akan memaki aku dengan lisannya yang kotor atau bahkan akan menjadi lembut seperti perlakuannya dulu kepadaku?
0813156350**       
            Gmn? Udh dicek rek.nya?
081791133**
Udh, makasih mbak
0813156350**       
            Iya, moga uangnya bermanfaat ya, lgs byr kostan.
081791133**
Angel
0813156350**       
Iya, gw emg angel kalo disuruh bikin sinopsis J
081791133**
Sering’ aza klo dpt royalty mah ^_^

Hmm, seperti itulah percakapan kami di sms, selepas aku mentransfer uang kepadanya. Padahal, faktanya dia selalu memaki aku kasar. Tapi, tak ada yang harus aku sesalkan, karena aku melakukan itu semua abstrak karena cintaku padanya. Tak peduli apa yang akan diperbuatnya kepadaku atau apa yang akan dikatakannya kepadaku, pastinya aku telah membuktikan bahwa aku takkan tergantikan dengan wanita pilihannya yang lain, karena kamu ada, maka aku pun ada.